APA ITU FILSAFAT???
Diperlukan
sopan, santun dan tata karma dalam filsafat yaitu mengubah paradigma karena
filsafat itu bersifat personal dan olah pikir jadi filsafat itu diri kita
sendiri, sehingga kita harus membangun filsafat dan memposisikan diri sesuai
dengan ruang dan waktu. Menurut Prof. Dr. Marsigit, MA, “kita dalam belajar
filsafat tidak harus memaparkan definisi yang sama melainkan kita bebas
mendefinisikan arti filsafat setelah mempunyai pengalaman untuk membangun
filsafat kita masing-masing. Dalam mendefinisikan filsafat pada pertemuan
pertama dengan pertemuan akhir semester bisa jadi sudah berbeda, jika di diri
kita sudah mempunyai definisi yang
berbeda bagaimana bisa mengharapkan definisi yang sama. Kalau menginginkan
definisi yang sama itu artinya bentuk formal, apalah arti mempelajari filsafat
jika hanya secara formal kalau kita tidak mengerti maknanya dan makna itu
kembali ke diri masing-masing”.
Objek
filsafat itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada, metode berfilsafat itu
intensif dan ekstensif. Intensif itu dalam sedalam-dalamnya bersifat radik
sedangkan ekstensif itu luas seluas-luasnya. Karena manusia mempunyai sifat
terbatas maka apa yang di anggap dalam ternyata bisa di perdalam lagi oleh
orang lain maupun diri kita diwaktu yang akan datang, apa yang di anggap luas
ternyata bisa diperluas lagi oleh orang lain tau diri kita di waktu yang akan
datang. Sehingga komponen hidup adalah fatal dan vital, fatal itu takdir dan
vital itu ikhtiar, takdir itu mengikuti ikhtiar.
Alat
untuk berfilsafat adalah dengan menggunkan bahasa analog. Salah satu bahasa analog
yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Marsigit, MA adalah elegi. Kelebihan bahasa
analog itu menembus ruang dan waktu. Itulah sebenar-benarnya kemampuan hidup
kita karena tidak ada satupun yang ada dan yang mungkin ada tidak menembus
ruang dan waktu. Jika salah satu unsure ditiadakan tidak akan ada kehidupan,
ruang ditiadakan tidak ada kehidupan, waktu ditiadakan tidak ada kehidupan.
Contohnya, ikan ditiadakan air maka matilah ikan tersebut walaupun bagi
serangga masih bisa hidup.
Bahasa
analog itu tidak sekedar kiasan dan lebih tinggi maknanya dari kiasan, misal
kita ambil kata cinta. Karena cinta disini bisa menembus ruang dan waktu
artinya menembus ruang untuk ruangnya manusia saja ada cinta orang dewasa, ada
cinta orang tua, ada cinta pada Tuhan. Jika diekstensikan maka cinta menembus
ruang dan waktu menembus ke dunia binatang yaitu ada cinta monyet, cinta
harimau, cinta kucing maka secara logika ada cinta tumbuh-tumbuhan, ada cintanya
air dan ada cintanya batu-batuan. Cinta dari yang ada dan yang mungkin ada.
Manusia akan sulit memahami jika masih terpaku pada suatu dimensi tertentu jadi
harus bisa menembus ruang dan waktu. Cinta antara 2 buah batu, kalau di pikir
secara logis mana bisa batu mempunyai cinta tetapi dalam hal ini yang mempunyai
cinta adalah subjeknya atau yang punya batu. Contoh lainnya, batu yang
bertasbih yang bertasbih disini adalah subjeknya. Disinilah jenis bahasa
analog.
Untuk
memahami bahasa analog kita harus mengerti apa yang di maksud dalam bahasa
tersebut karena jika tidak akan mengakibatkan bahasa analog. Karena metode
filsafat itu intensif dan ekstensif, untuk itu apakah arti dari yang mungkin
ada? Kita ambil contoh kita bertemu dengan teman kita, pada saat bertemu kita
belum mengetahui dari mana teman kita tetapi setelah teman kita memberi tahu
dari mana dia maka itu adalah suatu contoh dari yang sebelumnya mungkin ada
sekarang menjadi ada di pikiran kita. Dengan memahami makna yang mungkin ada
kita mampu mensyukuri ciptaan Tuhan. Itulah berfilsafat yaitu melekat pada diri
sendiri tergantung kita menyadari atau tidak. Apa yang kita bicarakan selalu
menimbulkan yang mungkin ada menjadi ada bagi orang lain. Dengan hal ini kita
bisa mengambil kesimpulan tiadalah alasan untuk tidak mensyukuri setiap yang
ada dan yang mungkin ada.
Prof. Dr. Marsigit, MA mengemukakan batasan antara pikiran dan hati dapat dilihat pada tingkatan di bawah ini:
Prof. Dr. Marsigit, MA mengemukakan batasan antara pikiran dan hati dapat dilihat pada tingkatan di bawah ini:
Hati/Do'a/Spiritual
Ucapan
Tulisan
Tindakan
Dari tingkatan terlihat
yang paling bawah adalah tindakan, lalu tulisan, ucapan, pikiran dan yang
paling atas adalah hati/spiritual. Tiadalah semua tindakanku mampu melaksanakan
semua tulisanku yaitu misal pada hari kamis mendapat undangan tetapi di waktu
yang sama harus mengajar filsafat maka harus memutuskan dengan cara SMS ketua
kalau tidak bisa mengajar di hari ini. Tulisanku tidak mampu menulis semua
ucapanku. Ucapanku tidak mampu mengucapkan semua pikiranku. Pikiran itu
bersifat multidimensi tetapi ucapanku bersifat seri. Apalagi pikiranku tidak
mampu memikirkan semua relung hatiku, contohnya kita tidak bisa menjelaskan
apakah itu cinta. Cinta itu tidak bisa diformulasikan dalam bentuk tulisan
maupun buku. Tindakanku, ucapanku, tulisanku, ucapan pikiran semua dalam rangka
menjelaskan cinta tetapi tidak akan pernah selesai. Pikiran itu akan berhenti
jika sudah masuk ke hati jadi batas pikiran ada didalam hati. Selama kita turun
di dunia tidak adalah yang bersifat identitas pasti bersifat kontradiksi,
kontradiksi itu predikat terluar didalam subjek, predikat itu sifatnya, subjek
itu yang mempunyai sifat. Misal handphone itu subjek yang mempunyai sifat
hitam, tidak mungkin handphone itu sama dengan hitam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar