Kalender

Rabu, 22 Oktober 2014

Bertanya dan Memahami

Terinspirasi oleh Perkuliahan Mata Kuliah Filsafat Ilmu oleh Prof Dr Marsigit MA, Hari Kamis, 02 Oktober 2014, Jam 09.30-11.10, Ruang 201A Gedung Lama, Kelas S2 P.Mat B, Pertemuan Ke 3

Pertanyaan 1:
Apakah dengan menjawab tes jawab singkat dalam perkuliahan merupakan suatu parameter bahwa kita sudah memahami materi?
Jawaban 1:
Tes jawab singkat tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan berfilsafat. Apalagi berhubungan langsung dengan elegi-elegi, belum tentu yang rajin membaca elegi sukses dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada tetapi ada kemungkinan secara tidak langsung berpotensi tetapi melewati perjalanan panjang yang secara tidak langsung bahkan melalui tahap-tahap metafisika setelah ada chemistry dan setelah mengetahui ada apa dibalik situasi. Secara psikologis anda akan sulit mengejar apa yang saya tanyakan. Jadi fungsi tes jawab singkat itu bermacam-macam, yaitu
  1.  Untuk silaturahim,Kalau saya tidak bertanya kapan anda kenal padahal berfilsafat itu dimulai dari membuat pertanyaan dan membuat penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan. Jadi tidak semata-mata untuk menghukum anda.
  2. Melalui pertanyaan dalam waktu singkat anda akan mengerti pikiran saya, sehingga tes jawab singkat itu untuk memicu pemahaman anda dalam berfilsafat.
  3. Untuk meluruhkan ego, agar kalian tidak sombong. Karena semua yang disertai dengan kesombongan tidak akan menghasilkan apa-apa dan dalam membaca elegy harus ikhlas, sabar, tuma’ninah.
Pertanyaan 2:
Kenapa manusia mempunyai banyak masalah dan apakah dengan berfilsafat akan menyelesaikan masalah itu?
Jawaban 2:
Kalian tidak akan punya masalah jika kalian = kalian. Selama kita di dunia ini maka kalian tidak sama dengan kalian dan aku tidak sama dengan aku, 4 tidak sama dengan 4, karena terdapat 4 yang pertama dan 4 yang kedua. Hal ini dikarenakan dunia ini terikat ruang dan waktu ada ruang 1 dan ada ruang 2. Itulah dunia ini jangankan ikhtiarnya, kodratnya manusia memang mempunyai masalah. Di dunia ini masalah itu disebut hubungan antara subjek predikat. Subjek predikat itu ada subjek=subjek dan manusia tidak akan mencapainya. Semua yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini tidak akan pernah mencapai subjek = subjek karena ada subjek 1 dan subjek 2, hanya Tuhan sang pencipta yang bisa menjadi nama Nya. Manusia hanya bisa predikat termuat dalam subjek. Predikat itu sifat, sifat terhadap subjek maupun sifat terhadap sifat yang lain, maka sifat itu menentukan sifat. Jadi subjek tidak sama dengan subjek itu sudah masalah tetapi kita bisa hidup karena masalah. Jadi masalah itu sebagian dari kehidupan maka jika menghindari masalah berarti menghindari kehidupan juga. Adanya manusia itu berikhtiar, ikhtiarnya itu supaya menempati ruang dan waktu secara proporsional, sopan dan santun.
Pertanyaan 3:
Menurut Bapak berfikir dewasa itu yang bagaimana?
Jawaban 3:
Ada 2 dimensi yang ditawarkan yaitu berfikir dan dewasa. Berfikir itu filsafat, dewasa itu psikologi dan semua itu harus sesuai dengan ruang dan waktu. Esensi dari memperhatikan siswa adalah ketika kalian memahami cara siswa belajar matematika bukan memaksa mereka. Dalam ilmu psikologi belajar yaitu di sebut learning projector dan criteria dengan masalah kedewasaan dikenal dengan teori piaget.
Pertanyaan 4:
Apakah filsuf-filsuf dalam filsafat itu mengenal gender?
Jawaban 4 :
Ada filsafat perempuan tetapi muncul di era kontemporer, catatan sejarah mengatakan demikian, tetapi kalau dipelajari dari sosioantropologi. Hal ini ada kaitannya tentang kedudukan dan peran wanita. Jangankan hubungan antara laki-laki dan perempuan, kalau zaman kerajaan tidak setiap orang bisa menuntut ilmu, tidak setiap orang mempunyai hak untuk mengerti dan mereka menganggap orang yang mempunyai ilmu itu berbahaya bisa membahayakan kekuasaannya, maka ilmu hanya dibatasi di lingkungan kerajaan. Itulah barang kali karena kedudukan wanita yang terbatas pada zaman kontemporer sudah mulai bermunculan.
Pertanyaan 5:
Apakah hubungan antara spiritual dengan formal?
Jawaban 5:
Hubungan dilihat dari grafik paling bawah material, formal, normative dan spiritual. Itu adalah salah satu contoh, tapi contoh yang strategi bahwa dunia ini terstruktur. Sebenarnya kalau diuraikan lagi sangat rinci strukturnya. Spiritual saja berjenjang dari spiritual orang awam sampai spiritual seorang kiai. Material dimulai dari pikiran dari otak yang dekat dengan pikiran sampai yang jauh di gunung. Formal itu bentuk resmi, bentuk tulisan, bentuk dokumen, aturan, formal itu aturan main. Sedangkan normatif itu filsafat yang terdiri dari hakekat, epistimologi, sumber, estetik dan estetika, maka yang ada dan yang mungkin ada meliputi semuanya yaitu menembus ruang dan waktu. Misal batu, batu itu menembus ruang dan waktu. Meskipun batu itu diam tetapi batu berjalan dari waktu yaitu dari zaman kemerdekaan ke zaman sekarang. Struktur yang dibuat itu hirarki, jadi setiap yang ada dan yang mungkin ada bisa ditarik ke atas atau ke bawah dalam usaha untuk menembus ruang dan waktu. Contoh lainnya ibadah itu secara spiritualnya, normatifnya seberapa jauh kita paham terhadap ibadah, formalnya itu dokumen-dokumen atau tulisan yang kaitannya dengan ibadah dan materialnya yaitu gedung yang digunakan untuk ibadah. Formal itu mengandung unsur hukum, maka sebenar-benarnya hidup adalah menembus ruang dan waktu.
Pertanyaan 6:
Bagaimana cara hidup bahagia sesuai dengan ruang dan waktu?
Jawaban 6:
Bahagia itu etik dan estetika, tergantung konsep.kalau di barat filsafat mencari kebahagiaan itu adalah ketika mereka mencari kebijakan atau ilmu. Orang barat bahagia jika sudah mencari ilmu. Budaya timur ruangnya mencari kesempurnaan adalah dengan spiritual. Jadi bahagia orang barat dan timur beda. Di Indonesia itu bahagia diperoleh dengan hidup harmoni, harmoni sesuai dengan ruang dan waktu. Harmoni itu keselarasan antara unsur satu dengan unsur lain.
Pertanyaan 7:
Apakah beda dari intuisi dan insting?
Jawaban 7:
Intuisi itu tingkatan paling dasar dari insting. Intuisi itu meliputi ada dan yang mungkin ada, tapi dari sekian banyak yaitu intuisi ruang dan waktu. Bagi binatang yang mempunyai insting belum tentu mempunyai intuisi ruang dan waktu sebaik manusia. Insting itu adalah bawaan, contoh monyet tetap mempunyai anak meski tidak di program. Insting mempunyai keterbatasan. Intuisi itu lahirnya dalam interaksi atau pergaulan dimana saja. Ada handphone lalu dicorat-coret secara tidak langsung kita akan mengatakan hal itu buruk. Kita bisa mengatakan hal itu buruk secara cepat itu dikarenakan pengalaman. Itulah pengalaman yang terkategorisasi dan bisa membuat kita berfikir.
Pertanyaan 8:
Bagaimana pendapat Bapak tentang prespektif dari do’a?
Jawaban 8:
Peran pikiran terhadap do’a yaitu seberapa jauh kita berfilsafat tentang spiritual (do’a). memahami spiritual itu berdasarkan pengalaman. Pengalaman terakumulasi dengan pengetahuan dan bergaul sehingga dapat disimpulkan kita mempunyai keterbatasan. Pikiran tidak mampu memaknai semua do’a, hanya mampu berikhtiar sampai taraf tertentu dan harus berhenti sampai taraf tertentu. Do’a poada akhirnya sendiri-sendiri atau secara pribadi tidak semua aspek do’a bisa dipikirkan apalagi dikatakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar