Pertanyaan 1:
Apakah
dengan menjawab tes jawab singkat dalam perkuliahan merupakan suatu parameter
bahwa kita sudah memahami materi?
Jawaban 1:
Tes
jawab singkat tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan berfilsafat.
Apalagi berhubungan langsung dengan elegi-elegi, belum tentu yang rajin membaca
elegi sukses dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada tetapi ada
kemungkinan secara tidak langsung berpotensi tetapi melewati perjalanan panjang
yang secara tidak langsung bahkan melalui tahap-tahap metafisika setelah ada
chemistry dan setelah mengetahui ada apa dibalik situasi. Secara psikologis
anda akan sulit mengejar apa yang saya tanyakan. Jadi fungsi tes jawab singkat itu
bermacam-macam, yaitu
- Untuk silaturahim,Kalau saya tidak bertanya kapan anda kenal padahal berfilsafat itu dimulai dari membuat pertanyaan dan membuat penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan. Jadi tidak semata-mata untuk menghukum anda.
- Melalui pertanyaan dalam waktu singkat anda akan mengerti pikiran saya, sehingga tes jawab singkat itu untuk memicu pemahaman anda dalam berfilsafat.
- Untuk meluruhkan ego, agar kalian tidak sombong. Karena semua yang disertai dengan kesombongan tidak akan menghasilkan apa-apa dan dalam membaca elegy harus ikhlas, sabar, tuma’ninah.
Pertanyaan 2:
Kenapa
manusia mempunyai banyak masalah dan apakah dengan berfilsafat akan
menyelesaikan masalah itu?
Jawaban 2:
Kalian
tidak akan punya masalah jika kalian = kalian. Selama kita di dunia ini maka
kalian tidak sama dengan kalian dan aku tidak sama dengan aku, 4 tidak sama dengan 4, karena terdapat 4 yang
pertama dan 4 yang kedua. Hal ini dikarenakan dunia ini terikat ruang dan waktu
ada ruang 1 dan ada ruang 2. Itulah dunia ini jangankan ikhtiarnya, kodratnya
manusia memang mempunyai masalah. Di dunia ini masalah itu disebut hubungan
antara subjek predikat. Subjek predikat itu ada subjek=subjek dan manusia tidak
akan mencapainya. Semua yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini tidak akan
pernah mencapai subjek = subjek karena ada subjek 1 dan subjek 2, hanya Tuhan
sang pencipta yang bisa menjadi nama Nya. Manusia hanya bisa predikat termuat
dalam subjek. Predikat itu sifat, sifat terhadap subjek maupun sifat terhadap
sifat yang lain, maka sifat itu menentukan sifat. Jadi subjek tidak sama dengan subjek itu sudah masalah
tetapi kita bisa hidup karena masalah. Jadi masalah itu sebagian dari kehidupan
maka jika menghindari masalah berarti menghindari kehidupan juga. Adanya
manusia itu berikhtiar, ikhtiarnya itu supaya menempati ruang dan waktu secara
proporsional, sopan dan santun.
Pertanyaan 3:
Menurut
Bapak berfikir dewasa itu yang bagaimana?
Jawaban 3:
Ada
2 dimensi yang ditawarkan yaitu berfikir dan dewasa. Berfikir itu filsafat,
dewasa itu psikologi dan semua itu harus sesuai dengan ruang dan waktu. Esensi dari
memperhatikan siswa adalah ketika kalian memahami cara siswa belajar matematika
bukan memaksa mereka. Dalam ilmu psikologi belajar yaitu di sebut learning
projector dan criteria dengan masalah kedewasaan dikenal dengan teori piaget.
Pertanyaan 4:
Apakah
filsuf-filsuf dalam filsafat itu mengenal gender?
Jawaban 4 :
Ada
filsafat perempuan tetapi muncul di era kontemporer, catatan sejarah mengatakan
demikian, tetapi kalau dipelajari dari sosioantropologi. Hal ini ada kaitannya
tentang kedudukan dan peran wanita. Jangankan hubungan antara laki-laki dan
perempuan, kalau zaman kerajaan tidak setiap orang bisa menuntut ilmu, tidak
setiap orang mempunyai hak untuk mengerti dan mereka menganggap orang yang
mempunyai ilmu itu berbahaya bisa membahayakan kekuasaannya, maka ilmu hanya
dibatasi di lingkungan kerajaan. Itulah barang kali karena kedudukan wanita
yang terbatas pada zaman kontemporer sudah mulai bermunculan.
Pertanyaan 5:
Apakah
hubungan antara spiritual dengan formal?
Jawaban 5:
Hubungan
dilihat dari grafik paling bawah material, formal, normative dan spiritual. Itu
adalah salah satu contoh, tapi contoh yang strategi bahwa dunia ini
terstruktur. Sebenarnya kalau diuraikan lagi sangat rinci strukturnya.
Spiritual saja berjenjang dari spiritual orang awam sampai spiritual seorang
kiai. Material dimulai dari pikiran dari otak yang dekat dengan pikiran sampai
yang jauh di gunung. Formal itu bentuk resmi, bentuk tulisan, bentuk dokumen,
aturan, formal itu aturan main. Sedangkan normatif itu filsafat yang terdiri
dari hakekat, epistimologi, sumber, estetik dan estetika, maka yang ada dan
yang mungkin ada meliputi semuanya yaitu menembus ruang dan waktu. Misal batu,
batu itu menembus ruang dan waktu. Meskipun batu itu diam tetapi batu berjalan
dari waktu yaitu dari zaman kemerdekaan ke zaman sekarang. Struktur yang dibuat
itu hirarki, jadi setiap yang ada dan yang mungkin ada bisa ditarik ke atas
atau ke bawah dalam usaha untuk menembus ruang dan waktu. Contoh lainnya ibadah
itu secara spiritualnya, normatifnya seberapa jauh kita paham terhadap ibadah,
formalnya itu dokumen-dokumen atau tulisan yang kaitannya dengan ibadah dan
materialnya yaitu gedung yang digunakan untuk ibadah. Formal itu mengandung unsur
hukum, maka sebenar-benarnya hidup adalah menembus ruang dan waktu.
Pertanyaan 6:
Bagaimana
cara hidup bahagia sesuai dengan ruang dan waktu?
Jawaban 6:
Bahagia
itu etik dan estetika, tergantung konsep.kalau di barat filsafat mencari
kebahagiaan itu adalah ketika mereka mencari kebijakan atau ilmu. Orang barat
bahagia jika sudah mencari ilmu. Budaya timur ruangnya mencari kesempurnaan
adalah dengan spiritual. Jadi bahagia orang barat dan timur beda. Di Indonesia
itu bahagia diperoleh dengan hidup harmoni, harmoni sesuai dengan ruang dan
waktu. Harmoni itu keselarasan antara unsur satu dengan unsur lain.
Pertanyaan 7:
Apakah
beda dari intuisi dan insting?
Jawaban 7:
Intuisi
itu tingkatan paling dasar dari insting. Intuisi itu meliputi ada dan yang
mungkin ada, tapi dari sekian banyak yaitu intuisi ruang dan waktu. Bagi binatang
yang mempunyai insting belum tentu mempunyai intuisi ruang dan waktu sebaik
manusia. Insting itu adalah bawaan, contoh monyet tetap mempunyai anak meski
tidak di program. Insting mempunyai keterbatasan. Intuisi itu lahirnya dalam
interaksi atau pergaulan dimana saja. Ada handphone lalu dicorat-coret secara
tidak langsung kita akan mengatakan hal itu buruk. Kita bisa mengatakan hal itu
buruk secara cepat itu dikarenakan pengalaman. Itulah pengalaman yang
terkategorisasi dan bisa membuat kita berfikir.
Pertanyaan 8:
Bagaimana
pendapat Bapak tentang prespektif dari do’a?
Jawaban 8:
Peran
pikiran terhadap do’a yaitu seberapa jauh kita berfilsafat tentang spiritual
(do’a). memahami spiritual itu berdasarkan pengalaman. Pengalaman terakumulasi
dengan pengetahuan dan bergaul sehingga dapat disimpulkan kita mempunyai
keterbatasan. Pikiran tidak mampu memaknai semua do’a, hanya mampu berikhtiar
sampai taraf tertentu dan harus berhenti sampai taraf tertentu. Do’a poada
akhirnya sendiri-sendiri atau secara pribadi tidak semua aspek do’a bisa
dipikirkan apalagi dikatakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar