Kalender

Rabu, 29 Oktober 2014

PERKEMBANGAN FILSAFAT

Terinspirasi oleh Perkuliahan Mata Kuliah Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, MA, Hari Kamis, 09 Oktober 2014, Jam 09.30-11.10, Ruang 201A Gedung Lama, Kelas S2 P.Mat B, Pertemuan Ke 4


Perkembangan filsafat dan aliran-aliran ilmu dalam filsafat. Filsafat apapun termasuk filsafat ilmu itu objeknya ialah sifat atau predikat, ada dan yang mungkin ada. Ada dan yang mungkin ada itu mempunyai tak berhingga dan hibrini. Dari yang tak berhingga sifat-sifat itu maka kita bisa menentukan misalnya sifat itu berubah atau tetap. Yang ada itu satu, dua atau banyak, kalau yang ada itu satu maka melahirkan filsafat yang namanya monoisem, kalau yang ada itu dua melahirkan filsafat yang namanya dualisem, kalau yang ada banyak melahirkan filsafat yang namanya pluralisem, kalau yang ada itu tetap melahirkan filsafat yang namanya permendisem, kalau yang ada itu berubah menghasilkan yang namanya heraklotisem.
Semua mengalir dalam kehidupan sehari-hari dan posisi kita ada di kontemporer. Kita sedang berusaha mengembangkan atau belajar filsafat. Menurut Immanuel Kant “jika kita ingin memahami dunia maka kita lihat pikiran kita” karena dunia itu apa yang kita pikirkan. Pikiran itu adalah suatu yang tetap sedangkan yang berubah itu lebih banyak berada di luar pikiran. Kalau di dalam pikiran lahirlah filsafat idealisem dengan tokoh plato. Kalau diluar pikiran maka lahirlah filsafat realisem dengan tokoh aristoteles. Contoh dari tetap itu adalah sekali subjek maka akan tetap menjadi subjek, sekali symbol warnanya hitam maka akan menjiwai warna hitam, yang berubah adalah didunia ini semua mengalami perubahan hal ini terjadi karena aku tidak bisa menyebut diriku. Tetapi tetap itu aku sama dengan aku dan ini hanya terjadi didalam pikiran. Maka yang hanya bisa aku sama dengan aku adalah Allah SWT, karena aku tidak sama dengan diriku maka hidup di dunia ini adalah kontradiksi. Yang tetap bersifat analitis dan yang berubah bersifat sintetis.
 Analitis itu bersifat a priori dan identik itu bersifat a posteriori. Jadi di dalam pikiran itu memakai rasio sehingga bersifat rasionalisme dengan tokoh Rene Descartes. Rene Descartes mengatakan “Tiadalah ilmu jika tanpa rasio” dan “Tidak ada ilmu jika tidak ada pengalaman”, dan yang berubah itu pengalaman yang bersifat empirisme. Analitik itu a priori dan sintetik itu a posteriori artinya yang tetap itu analitik, matematika itu analitik bersifat konsisten sehingga melahirkan filsafat koherennisem. Ketakutan-ketakutan kita itu bersifat a priori. A posteriori itu bisa terpikirkan setelah melihat, contoh seekor kucing bergerak setelah melihat tikus. Immanuel Kant mengatakan jangan mendewa-dewakan pengalaman dan melupakan rasio.
Sintetik itu bersifat kontradiksi karena dari pengalaman dan interaksi maka diperolehlah pengetahuan, kemudian disebut pengetahuan intuisi maka melahirkan filsafat intuisionisisem. Dari intuisi berdasarkan pengalaman maka terbentuklah kategori maka lahirlah filsafat kategorisisem. Kategori itu memunculkan logika, jadi logika ada hubungannya dengan pengalaman. Filsafat itu ada pada diri kita yaitu material, formal, normative dan spiritual itu akibat ulah kita. Tetapi berbeda dengan kontemporer, secara sosiologinya yaitu archaic yaitu manusia batu jaman dahulu mulai dari makan, membuat keturunan, diatasnya tribal yaitu lebih maju dan yang dipikirkan hari ini makan apa, diatasnya itu ada tradisional belum mengenal kemajuan teknologi, di atasnya ada feudal sudah ada teknologi tapi teknologi untuk menguasai orang, di atas itu ada modern. Semua orang bisa menjadi filsafat jika mempunyai ide. Tetapi bukan ditulis sendiri melainkan ditulis oleh orang lain. Setelah modern munculah post modern dan kontemporer itu disamakan dengan post modern atau yang disebut dengan power now, dan filsafatnya meliputi kapitalisem, pragmatisem, materialisem dan hedonisem. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar